Aku
percaya, setiap perlombaan selalu ada lawan, termasuk perlombaan yang
kita ikuti saat ini. Perlombaan yang pesertanya hanya kita berdua,
aku dan kamu. Lawan? Lawanku bukan kamu, juga lawanmu bukan aku,
lawan kita adalah ego masing-masing.
Kamu tahu
perlombaan apa yang selalu kita ikuti setiap harinya? Iya, lomba
menahan rindu.
Siapa
yang paling bisa menahannya, dialah pemenangnya. Dan kamu selalu
menjadi juara dalam hal itu. Aku? Aku selalu kalah.
Kita
tidak pernah bosan mengikuti perlombaan ini, bisa saja, mungkin kita
sudah terjebak di dalam lingkaran yang disebut dengan “Lomba Menahan
Rindu”, mau tidak mau kita harus mengikutinya, suka tidak suka
kita harus menjalaninya.
Aku
belajar, dari seringnya kita berada di perlombaan ini, mengalah
adalah pilihan yang tepat, karena ku tahu, jika aku menang, rindu ini
akan menguap, dan bisa saja kita lupa akan perlombaan ini, tidak ada
yang dirindu dan tidak ada yang merindu. Itu sangat pedih, lebih baik
aku yang kalah.
Aku
sangat merindukanmu saat ini, kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarin,
kemarin, saat sebelum perlombaan ini dimulai. Bagaimana dengan sang
juara? Iya kamu. Setiap harinya, setiap aku kalah, setiap aku rindu,
aku selalu menanamkan bahwa kamu pun sama, merindukanku.
Iya,
disaat aku merindukanmu, selalu aku tanamkan, disaat itu juga kamu
(pasti) merindukanku. Karena hal yang paling aku takuti dalam
perlombaan ini yaitu, kamu tahu? Menerima kenyataan bahwa kamu tidak
sedang mengikuti perlombaan ini. Meskipun aku tahu, kamu sudah lama
tidak mengikutinya.
Menyedihkan
memang, bahkan lebih menyedihkan dari, yang dirindu sudah tidak lagi
merindu. Inilah kenyataan yang harus dijalani kedepan, berlomba
sendirian.
Bodohnya,
aku terus mengikutinya. Yah aku tahu, sudah tidak mungkin lagi ada
pemenang dalam perlombaan ini. Berharap kamu ikut kembali adalah
alasanku mengapa masih bertahan.
Aku belum
bisa membiarkan rindu ini menguap begitu liar, menguap tak tertahan,
menguap karena orang yang dirindu sudah tidak lagi merindu.
Entahlah,
aku tidak tahu cara mengakhiri ini semua, karena yang ku tahu akhir
dari sebuah perlombaan selalu ada pemenang, meskipun selalu kamu yang
menang. Menyerah di tengah jalan? Kamu tau itu, sama sekali bukan
kita.
Kelak ..
Jika
nanti perasaan ini tidak lagi kuat menahan, akan ku biarkan rindu ini
menguap secara perlahan, akan ku biarkan kamu menghirupnya,
merasakannya, mengenalinya kembali bahwa rasa rindu ini masih dari
orang yang sama, untuk orang yang sama, untuk kamu sang juara.
Hei masih
maukah kamu menjadi juara?
Aku rindu
kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar