"PEMILU 2014 dipajuin yah?"
"Itu buktinya pamflet-pamflet bahkan spanduk-spanduk sudah mulai menghiasi setiap dinding di kampus kita"
"Lu ngga tau? kita kan mau PEMIRA"
"PEMIRA? Pemilihan Raya? yang katanya pesta demokrasi di tingkat kampus yang menjadi miniatur pesta demokrasi bangsa itu?"
"Iah"
"Hah? itu kan cuma pemilihan biasa, yang nyaloninnya juga sama seperti kita, mahasiswa. Lantas dana darimana mereka? berani bikin pamflet yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan atau mungkin sebanyak mahasiswa yang ada di kampus ini? bikin pamflet itu ngga murah loh!"
"@#%$#^#HENING#$@##%^"
Mungkin ini yang
menjadi pertanyaan besar bagi mahasiswa untuk calon yang katanya bakalan
memimpin kita setahun kedepan, penyambung lidah mahasiswa kepada
rektor, penggerak dalam sebuah aksi, baik
horizontal maupun vertikal, penenang ketika di lingkungan kampus terjadi
bentrok antara mahasiswa dengan dosen, atau apalah definisinya itu gw
ngga tau, yang jelas disini, yang jadi pertanyaan gw, darimana kah dana
yang memfasilitasi mereka untuk berkampanye? yang notaben si calonnya
itu mahasiswa yang belum berpenghasilan.
Hari kamis
kemarin, tepatnya hari terakhir UTS untuk angkatan 48, kebetulan kelas
gw kebagian ruang UTS di TPB yang sebelumnya selalu kebagian di
FPIK-FAPET-FPIK-FAPET (sekali-kali di astri ke, hehe),
maklumlah kelas terakhir di kelompok P, di situ gw liat, dipojokan yang
mau ke kortan sama ke FMIPA menggantung sebuah spanduk berukuran besar
yang kalau di asumsikan sebuah kain bisa dibikin baju 3-4 stel atau
lebih.
Jujur gw ketipu
sama isi spanduk itu, gw ngiranya itu merupakan program dari IPB, eh
ternyata, pas gw buka alamat websitnya, itu adalah bentuk kampanye dari
mereka. Memang sih menarik, menarik banget sampe-sampe gw ketarik
alias ketipu, yang bikin menarik dari spanduk itu yaitu isinya, disitu
sama sekali ngga ada embel-embel si calon dan wakil calonnya, cuma
tulisan biasa yang ternyata maksud tulisan disitu merupakan akronim
dari nama si calon dan wakil calonnya, dan yang lebih memprihatinkan
lagi, spanduk itu dipasang di atas ibu-ibu, bapak-bapak bahkan anak
kecil yang lagi berjualan disitu. Mereka itu ngga mikir apa?, coba deh
kalian bayangin, yang berjualan tadi, mereka itu susah payah mencari
uang untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan cara berjualan, tapi apa
yang dilakukan calon pemimpin kita? sebaliknya, mereka malah
menghambur-hamburkan uang dengan cara membuat pamflet atau spanduk untuk
memenuhi kebutuhan mereka yang dananya itu patut dipertanyakan. Mereka
berarti tidak jauh beda dengan petinggi-petinggi di negeri ini, ketika rakyat
kecil menjerit-jerit tentang kemiskinan, kekurangan pangan, kenaikan
harga ini itu, pendidikan tapi mereka malah berfoya-foya, berleha-leha
dan ber hip-hip hura tanpa memikirkan keadaan di sekeliling mereka
(rakyat.red). Calon pemimpin seperti inikah yang mau kita pilih? atau
jalur golputkah yang tepat untuk menyuarakan suara kita dalam PEMIRA
nanti?
Gw balik ke
asrama, ternyata sama, pamflet yang ukurannya sama dengan poster-poster
di kamar gw turut menutupi semua informasi penting yang ada di mading
lorong dengan sesuatu yang ngga penting, dalam benak gw timbul
pertanyaan-pertanyaan baru, apakah dari angkatan 48 ada yang menjadi
salah satu dari tim sukses mereka? atau dari pihak SR kah yang membantu
mengkampanyekan mereka di lingkungan asrama? Entahlah.
Kembali ke topik permasalahan,
Sebenarnya, misi
mereka yang sebenarnya itu apa sih? apa ada misi tersendiri sehingga
mereka berani merogoh kocek yang sangat besar hanya untuk memenangkan
dalam PEMIRA ini? mereka berani mengeluarkan uang pasti mereka juga
'nantinya' mengaharapkan uangnya itu kembali, sesuai dengan fitrah
manusia yang berprinsip pada untung dan rugi, apakah ini yang disebut
dengan pengabdian? ketulusan dalam menjalankan amanah? ataukah mungkin
ada golongan-golongan terselubung yang mendanai mereka? lantas apa
keuntungan yang diterima golongan tersebut? sungguh, ini merupakan teka-teki politik yang berkembang di kampus ini yang sulit dipecahkan. Coba deh
kalau misalkan dana yang mereka gunain secara cuma-cuma itu dipake buat
hal-hal ngga penting dengan menempel pamflet atau spanduk yang peluang
untuk menangnya itu ngga seberapa, akan lebih bermanfaat jika dana
ke-3 calon itu digabungkan lalu disumbangkan kepada
pengemis-pengemis, pengamen-pengamen, pemulung-pemulung yang
ada di sekitar kampus atau kepada masyarakat yang membutuhkan, akan
lebih bermanfaat bukan? inilah yang disebut PENGABDIAN MAHASISWA
SESUNGGUHNYA, kita ini kuliah di kampus rakyat, sudah sepantasnyalah
kita memikirkan keadaan yang terjadi pada masyarakat, bukan memikirkan
kepentingan dari pihak-pihak tertentu.