Hari ini benar-benar hari yang penuh perjuangan buat aku, disaat aku harus menunggu antrian yang panjang di Bank Mandiri, nyari warnet kesana kesini, ke wartel nelpon panitia UTM, lari-lari di jalan raya dan yang terakhir ninggalin motor di warnet hanya untuk daftar UTM IPB. (
padahal tinggal daftar, ke bank mandiri beli pin. daftar lagi. udah deh selasai).
Tapi yang aku alami ngga semudah itu, aku harus melewati beberapa tahap yg memotivasiku untuk terus maju buat jadi calon mahasiswa IPB (
mudah-mudahan jadi mahasiswa IPB beneran. amin).
Ok deh, sekarang aku mau berbagi cerita perjuanganku tadi siang. semoga kita bisa mengambil hikmah di balik itu semua.
Hari ini setelah satu hari pengumuman SNMPTN 2011, aku lewati seperti biasa, bangun jam 4, solat sunat tahajud dan tidak lupa berdoa kepada Sang Pencipta Allah SWT agar dimudahkan dalam segala urusanku hari ini. Aku langsung berangkat ke masjid menunaikan salat subuh berjamaah, masjid masih gelap padahal waktu sudah menunjukkan jam 5 kurang 15 menit, disaat masjid2 yang lain sudah mengumandangkan azan. Biasanya di masjid deket rumah suka ada yang azan tapi hari ini ngga ada yg azan, jadi aku deh yang azan meskipun ngga pake speaker, hehe soalnya masih malu sama suara aku yang serak-serak beledeg, yah meskipun suara aku ngga sebagus Ust. Jefri tapi ngga apalah buat pembelajaran buat aku.
Back to home
Sebenarnya aku belum cerita ke bapa dan ibu aku, kalau anaknya ini ngga lolos SNMPTN. Tapi untungnya aku punya kakak yang sangat pengertian sama kondisi aku saat ini. Jadi mereka lah yang cerita dan mereka juga orang yang pertama kali melihat pengumuman kelulusan aku disaat aku sudah tidur yaitu sekitar jam 8 malam. Akhirnya orang tuaku bisa nerima kenyataan pahit ini disaat mereka mengharapkan aku supaya bisa lolos tapi Allah punya rencana lain pasti ada hikmah di balik ketidaklulusannya aku dan mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mendapatkan sesuatu yang aku inginkan. (makasih ya teh, bapa dan ibuku yang udah nerima kenyataan ini, lukman janji ngga bakal ngecewain tuk yang kedua kalinya). Salah satu cara supaya aku bisa masuk IPB yaitu dengan mengikuti UTM IPB, akhirnya aku memantapkan hati dan niat, kalau aku harus ikut UTM IPB.
Sekitar jam 9 pagi aku berangkat ke bank mandiri yang di dekat Taman Topi, kira-kira perjalanan satu jam, di perjalanan ngga ada apa-apa, berjalan dengan mulus sampai tujuan (alhamdulilah). Sesampainya disana aku ngga tau tempat daftarnya dimana, aku coba nanya ke satpam Bank Mandiri yang berdiri di depan pintu masuk (kita liat dialognya yuk, supaya kaya di drama-drama gitu, hehe).
St1 = satpam ke satu
St2 = satpam ke dua
Po = polisi
Sy = aku
Jam setengah 11
Sy = "pak numpang tanya, kalau untuk pembayaran ujian mandiri IPB disebelah mana ya pak?"
St1 = "bank mandiri apa mandiri syariah de?"
Sy = "ngga tau juga deh pak!"
St1 = "coba ade ke bank syariah, soalnya tadi ada yang mau bayar udah nyampe ke teller bank mandiri balik lagi".
Sy = "oh. makasih ya pak"
akhirnya aku ke loket bank mandiri syariah, setelah berada di deket loket bank mandiri syariah, aku cuma mundar mandir sesekali ngelirik jam, aku bingung mau nanya ke siapa semuanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Tiba-tiba ada polisi nyamperin aku (mungkin polisi curiga sama aku, disangka dia, aku orang yang mau nyimpen paket bom kaya diberita-berita, hehe).
Po = "mau apa de?"
Sy = (mau naro bom pak, hehe) "ini pak kalau untuk pembayaran ujian mandiri disebelah mana ya pak?"
Po = "bentar saya nanya dulu ke satpam"
lalu satpam ke 2 menghampiri aku (ini satpam yg nyesatin aku, yang bikin aku nyari warnet kesana kesini. Kalau tau bakalan disesatin aku ngga bakalan nanya deh sama tuh satpam, heuh).
St2 = "ada perlu apa de?"
Sy = (GUBRAKKKKK!!! itu polisi ngapain aja tadi ngobrol sama satpam?) "gini pak, saya kan mau daftar ujian mandiri IPB tapi saya ngga tau tempatnya itu di sebelah mana pak?"
St2 = "disini aja de" (sambil nunjukin tempatnya) "ade tinggal isi bukti pembayaran ini, namanya siapa terus sama alamat yang di tujunya"
Sy = "nama siapa pak, kalau alamatnya alamat siapa pak?"
St2 = "nama rektornya sama nomor rekeningnya juga de" (aku makin bingung, setauku di websitnya ngga ada nomor rekeningnya tuh, sebenarnya ini UTM apa jalinan kasih?)
Sy = "ia emang pak"
St2 = "ia de, emang ade ngga di kasih tau nomor rekeningnya berapa?"
Sy = "oh gitu ya pak, yaudah pak terima kasih"
Aku langsung keluar ngambil motor diparkiran, bayar parkiran lalu pergi nyari warnet, tadinya aku mau langsung balik arah takut ada polisi nanti malah berabe urusannya. Terpaksa aku harus muter lewat depan Balai Kota demi mendapatkan nomor rekening di website UTM IPB, ternyata ngga disangka-sangka aku malah terjebak macet, di depan Balkot ada warga yang lagi demo, yang aku liat sih lagi demo ke-tidak-setuju-an dalam rencana pembuatan jalan tol, aku liat tulisan-tulisan di spanduk bertuliskan "Kami tidak mau tanah kami di hargai 500 ribu" ada juga "kami tidak mendukung pembuatan jalan tol" (namanya juga indonesia pengen yang murah-murah, giliran korupsi?, hehe no politik ah).
Akhirnya aku bisa ngelewati kerumunan warga yg lagi demo (almhamdulilah masalah satu sudah selesai terlewati), setelah berkendara motor kesana kesini, ngga ada satupun warnet yang aku temui, masuk ke pasar malah terjebak macet lagi, yah terpaksa aku harus balik lagi ngelewatin jalan yang tadi, ngelewatin warga yang lagi demo dan ngelewatin kemacetan. sepanjang jalan aku hanya bisa berdoa kepada-Nya (ya Allah mudahkanlah segala urusanku, jika ini emang baik untuk agamaku dan masa depanku). aku langsung menuju PGB (Pusat Grosir Bogor) yang aku tau di belakang PGB ada warnet, udah nyampe warnet, eh warnetnya penuh. aku nyoba ke warnet yang ada di depan kantor Depag (Departemen Agama) yang lumayan jauh dari PGB.
Aku tiba juga di warnet, waktu sudah menunjukan jam 11 lewat. Ternyata warnetnya ada di lantai 2, aku langsung lari naik tangga. "Alhamdulilah banyak yang kosong" kataku dalam hati. Aku langsung buka sepatu, masuk lalu ngaktifin billing komputer. Tanpa pikir panjang aku langsung buka website utm.ipb.ac.id. dan ternyata? nomor rekeningnya itu ngga ada, setelah aku ngeklik sana sini (tuh kan emang ngga ada, satpam yang tadi so tau), aku mulai gelisah, disaat kegelisan hanya Allah yang bisa menolongku, aku terus berdoa (mudahkanlah aku ya Allah) dengan penuh inisiatif, aku menyimpan nomor kontak telpon panitia UTM yang tertera di websitnya, aku langsung matiin komputer, bayar ke operator.
Aku makin gelisah bercucuran keringat, pas aku mau menaiki motor, ternyata di samping warnet ada wartel (Alhamdulilah selalu ada pertolongan-Nya) tempat potocopyan, warteg, warung pokonya lengkap deh, hehe. Di wartel cuma ada 2 telpon yang bisa digunain, aku langsung ngambil telpon yang di sebelah kiri, masukin nomor yang dituju, Dan? "nomor 6 nya ga bisa?" aku langsung ngambil telpon yang ada di sebelah kanan, udah selesai masukin nomor, malah telponnya yang ga bisa, aku minta tolong ke si mba penjaga wartel
Sy = "mba ko ini telponnya ngga bisa? dari tadi ngga nyambung-nyambung"
Mb = "sebutin nomornya?" aku langsung nyebutin nomornya dan alhamdulilah nyambung (terima kasih ya Allah)
Pu = Panitia UTM
Pu = "hallo, selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" suara bapak-bapak
Sy = "hhem saya calon peserta UTM IPB" gugup dengan nada cupu
Pu = "ia?"
Sy = "tadi saya ke bank mandiri mau beli pin, tapi kata satpam saya harus ke bank syariah mandiri, udah ke bank syariah mandiri, saya ditanya nomor rekening yang ditujunya pak. Pas saya liat di website UTM ternyata nomor rekeningnya itu ngga ada pak?"
Pu = "ade langsung ke bank mandiri aja, bilang aja mau daftar UTM, pasti sudah tau ko"
Sy = "oh jadi langsung ke mandiri pak?"
Pu = "ia de"
Sy = "ya sudah pak, terima kasih ya pak"
Pu = "sama-sama"
Sy = "assalammu'alaikum"
Pu = "waalaikumsalam" (langsung ku tutup)
Sy = "berapa duit mba?" tanyaku
Mb = "300 rupiah"
Sy = "nih mba" (sambil memberikan uang gopean receh)
Mb = "kembalinya de,"
Sy = "ngga usah mba" (aku langsung keluar lalu menaiki motor kembali ke bank mandiri)
Alhamdulilah, di perjalanan aku tidak berhenti-hentinya mengucapkan syukur kepada-Nya supaya aku dimudahkan oleh-Nya kembali. Tiba di gerbang bank mandiri, badanku lemas melihat antrian panjang yang kelihatan dari luar, tapi semangat dalam diriku masih membara. Aku langsung memarkirkan motor di belakang bank mandiri dan berlari memasuki bank mandiri.
St1 = "selamat siang de," kata satpam penjaga pintu bank mandiri.
Sy = "pak kalau mau bayar utm dimana ya pak?"
St1 = "silahkan disini de," kata satpam sambil menunjukan tempatnya
Sy = "makasih ya pak!" (tadi katanya suruh ke bank mandiri syariah, gimana sih bapak?)
Aku langsung mengisi kertas aplikasi setoran/transper lalu membawanya menuju tempat antrian. "Masya Allah antriannya panjang sekali" dalam hatiku. Waktu yang sudah menunjukan jam setengah 12, membuat aku tidak yakin akan daftar UTM karena setengah jam lagi pendaftaran ditutup sedangkan aku masih nunggu antrian yang ga mungkin kelar hanya dengan setengah jam.
Aku mulai memutar otak, berpikir keras apa yang harus aku lakukan disini, rasa pesimis pun mulai menyapaku, disaat itu juga bayangan wajah keluargaku hadir memberikan semangat untukku. Apa aku harus menangis sambil memohon-memohon kepada orang-orang yang lagi antri supaya aku didahulukan? apakah aku harus pura-pura bahwa yang paling depan adalah keluargaku supaya aku punya alasan agar aku di depan? tapi itu semua ngga mungkin aku lakukan, perlu mental baja untuk melakukan hal seperti itu.
Akhirnya aku mulai berbicara dan merayu dengan nada rintih kepada ibu-ibu yang antri di depanku.
Sy = "misi bu," kataku sambil menepuk pundaknya
Ibu1 = "ia ada apa?" kata si ibu sambil menolehkan wajahnya
Sy = "gini bu, saya kan mau daftar ujian ke IPB, sedangkan pendaftaranya itu ditutup jam 12 pas, boleh saya ke depan," kataku dengan nada rintih berharap si ibu itu mempersilahkan aku untuk berada didepannya
Ibu1 = "maaf saya juga buru-buru" singkat si ibu (Bu, coba bayangin gimana rasanya jika anak ibu itu ada di posisi saya?)
Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain berdoa kepada Allah berharap ada orang yang baik hati mempersilahkan aku agar aku lebih dulu antrinya, aku cuma memutar-mutar badanku melihat aktifitas yang ada di dalam ruangan bank mandiri, melihat jam hanya menimbulkan rasa pesimis. "hanya Allah yang bisa menolongku, hanya Allah" batinku berdzikir. Akhirnya ada ibu-ibu yang antri ke 6 dari depan menengok kebelakang memandangiku sambil tersenyum (mungkin dia mendengar percakapan aku dengan si ibu-ibu yang tadi), lalu aku balas senyumannya. Dia mempersilahkan aku agar aku antri didepannya. Aku maju kedepan menghampirinya lalu menjelaskan apa yang sedang aku lakukan, si ibu-ibu itu berkata "sudah disini, di depan ibu aja, insya Allah keburu", "Alhamdulilahhrirobbila'alamin, makasih ya bu" si ibu-ibu itu hanya bisa tersenyum melihatku (ya Allah semoga Enkau membalas yang berlipat ganda kebaikan si Ibu ini).
10 menit aku menunggu, akhirnya aku dipanggil juga
Te = teller bank mandiri
Te = "selamat siang ada yang bisa saya bantu?"
Sy = "saya mau bayar UTM IPB mba,"
Te = "oh, nomor pendaftarannya berapa de?"
Sy = "nomor pendaftarannya mba? bukannya harus beli nomor PIN nya dulu ya mba?"
Te = "ngga de, jadi kamu harus daftar dulu, nanti kamu dapet nomor pendaftarannya, kalau ngga ada nomor pendaftaran saya mau masukin apa?"
Sy = "oh, jadi saya harus daftar dulu mba, ya sudah mba terima kasih"
Te = "ia sama-sama"
Aku langsung membalikkan badanku lalu keluar, si ibu yang tadi hanya bisa tersenyum melihatku, aku balas senyumannya kembali, berlari menuju parkiran ngambil motor. Alhamdulilah ternyata ada warnet yang ngga jauh dari bank mandiri tepatnya di depan taman topi kira-kira 100 m dari bank mandri. aku langsung nyalain komputer buka website utm ipb lalu daftar, alhmdulilah selesai juga dengan mendapatkan nomor pendaftaran 8012417003. "terima kasih ya Allah" kataku sambil mematikan billing komputernya lalu bayar ke operator warnet.
Tanpa pikir panjang aku langsung lari menuju bank madiri meninggalkan motor di samping warnet, menyeberangi jalan raya meskipun bahaya di depan mata tapi rasa semangat dalam diri aku dan pertolongan Allah menyelematkanku.
Tiba di bank mandiri, aku langsung menuju teller. Dan apakah kalian tahu? ternyata si ibu-ibu tadi yang tidak mempersilahkan aku supaya aku menyelangnya ternyata masih antri (Allah selalu memudahkan jalan yang baik bagi hamba-Nya yang berbuat baik).
(waktu 15 menit lagi ke jam 12)
Te = "gimana de udah daftar?"
Sy = "udah mba" kataku sambil mengatur napas ( hah hah hah hah )
Te = "sini" kata mba teller meminta kertas yang ada ditanganku, aku lalu memberikan kepadanya
Te = "nomor pendaftarannya berapa de?" tanya mba teller sambil mengetikkan nomor yang aku sebutkan "ini nomor pin nya de, 16 digit"
Sy = "oh, ia mba, makasih ya mba"
Te = "sama-sama de'
Aku langsung keluar meninggalkan bank mandiri, masih tetap berlari mengejar waktu menuju warnet yang tadi, berlari menyeberangi jalan raya. Di depan pintu warnet aku menemukan KTP aku yang mungkin tadi terjatuh waktu aku lari. aku langsung menyalakan billing komputer, buka website UTM. Dan alhamdulilah selesai dalam waktu 4 menit lagi pendaftaran ditutup, yah meskipun kartu ujiannya ngga bisa dicetak ditempat karena logo IPB nya ngga timbul, aku langsung mengirim kartu ujiannya ke kaka aku lewat e-mail yang bisa dicetak dirumah kapan aja, hehe -selesai-
Itulah perjuanganku menuju UTM IPB, semoga perjuanganku menuju UTM membuahkan hasil, Aku yakin Allah dan Rasul-nya pasti melihat perjuanganku karena Allah sudah merencanakan semua ini.
Sekarang aku sadar betapa berharganya waktu, benar kata pepatah mengatakan 'TIME IS MONEY'.
"Ya Allah, aku percaya atas kebesaran-Mu, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin bagi-Mu. Ya Allah jika pilihan ini baik untuk agamaku, duniaku dan masa depanku, izinkanlah aku untuk menuntut ilmu di dunia ini. Aku yakin Engkau pasti mengabulkan doa hamba-Mu yang bersungguh-sunguh, Ya Allah tetap jadikan aku sebagai hamba-Mu yang selalu bersyukur atas apa yang Engkau berikan kepadaku. Amin Ya Rabb"