Berawal dari
kemungkinan-kemungkinan diatas, terkadang kita tidak hati-hati ketika
menjalin hubungan dengan orang lain. Contohnya, kita menjalin
hubungan dengan orang yang sudah milik orang lain, meskipun sebatas
teman, tapi bisa aja kita dianggap sebagai orang ketiga perusak
hubungan orang. Kecuali hubungannya dengan cowok-cowok juga, ngga
mungkin dibilang orang ketiga sih tapi dibilang kumpulan maho
bersaudara haha.
Jadi di postingan ini gw
mau ngomongin soal orang ketiga, entahlah siapa yang pertama kali
melabeli orang yang menjalin pertemanan di tengah-tengah pasangan
yang sedang kasmaran dengan sebutan orang ketiga. Balik lagi ke
“Sebenarnya salah ngga sih jadi orang ketiga?” menurut gw,
tergantung. Yah tergantung niatan orangnya, kalau dari awal dia
ngejalaninnya udah punya niatan pengen ngerebut pacar orang, menurut
gw itu yang salah. Kenapa? Karena bagaimanapun juga kalau lu ngerebut
pacar orang lain itu sama aja lu udah ngerebut kebahagiannya juga,
terutama untuk pihak yang dirugikan. Lain halnya dengan orang ketiga
yang cuma sebatas temen curhat, tanpa bawa-bawa perasaan dalam
hubungan pertemanannya. Ini sebenarnya ga salah, yang salah itu
keadaanya. Kenapa? Karena mungkin si cewek/cowoknya udah bosen sama
pacarnya dan dia lagi butuh temen curhat buat ngedengerin semua
keluhan-keluhannya. Terus apa hubungannya dengan keadaan? Nah orang
ketiga disini keadaannya atau posisinya lagi sendiri (maaf, jomblo).
Disinilah muncul prasangka-prasangka negatif dari orang yang tidak
tau akar permasalahannya sehingga dengan mudah melabelinya dengan
sebutan orang ketiga. Kasian yah? Iyah :(
Tapi di posisi ini banyak
jomblo-jomblo yang terjebak dengan keadaan, yang tidak sengaja
menumbuhkan perasaan di dalam pertemanan, mungkin karena keseringan
berduaan atau mungkin keduanya menemukan kata nyaman ketika saling
mendengarkan curhatan.
Kalau sudah kaya begini
siapa yang disalahkan? Perasaan? Bukan. Perasaan berasal dari hati,
keduanya punya hati dan hati pasti tau mana yang bikin nyaman atau
hanya sebatas teman. Keadaan, yah keadaan yang ngga tepat. Karena
terkadang kita menjalin hubungan dengan orang yang mungkin tepat
kalau dilanjutkan, tapi keadaan yang ngga tepat, atau mungkin keadaannya
yang tepat tapi orangnya yang ga tepat.
Bisa jadi ada salah satu
pihak yang ke-geer-an, iya itu gueeeee. BYE.
Sekali lagi, bukan
bermaksud merusak hubungan orang, tapi keadaanlah yang ngga tepat.
Bukan ingin memiliki tapi hati terlalu percaya diri karena sudah lama
sendiri. Yah, semua jadi salah ketika sudah bawa-bawa perasaan dalam
hubungan pertemanan yang notabene-nya sudah punya pasangan. Tapi,
tidak ada yang patut untuk disalahkan, karena kita tidak tahu kapan
Tuhan menitipkan perasaan kepada mahluknya yang sedang menjalin
pertemanan untuk merubahnya menjadi hubungan percintaan.
