Dari sini aku sadar, kita emang ngga pernah bisa untuk kembali. Yah meskipun itu cuma sebatas mengucapkan 'selamat pagi' di awal hari yang akan dilewati bersama, di tempat berbeda dengan waktu yang sama. Tidak ada yang salah, hanya saja kita masih diingatkan untuk saling menghargai.
Mau sampai kapan wajah itu tersimpan rapi di dalam lemari? mau sampai kapan orang yang punya wajah itu menunggu untuk memiliki? yah, mungkin menunggu waktu yang tepat. Bukankah waktu yang tepat itu sudah kelewat? iya kelewat, tapi kita masih bisa memutarnya kembali dengan membuat janji untuk bertemu di hari yang tepat lagi, lagi dan lagi. Sampai akhirnya kita tidak sadar kalau hari ini adalah hari yang tepat. Dan kita masih tidak bisa untuk kembali.
Aku percaya, tidak ada yang tidak mungkin seseorang untuk kembali, tapi apakah kita sudah siap dengan kemungkinan yang akan terjadi? Aku yang belum bisa menepati, dan kamu yang belum bisa menghargai. Yakin? ini tidak akan terulang lagi jika nanti kita benar-benar kembali? Sekali lagi, tidak ada yang patut untuk disalahkan, hanya saja kita belum bisa untuk saling mengerti.
Jujur, hadirnya kamu di hari-hariku lagi, telah menghidupkan kembali rasa yang sudah lama mati.
Tapi kini, rasa itu aku bunuh kembali. Kejam. Tapi lebih kejam lagi kalau membiarkannya hidup sendiri.
Aku yakin, entah itu dengan rasamu ataupun rasaku, punya 1000 nyawa yang bisa hidup kembali kapanpun yg dia mau. Tapi, bukan untuk orang yang sama.
Kini, lukisan wajah itu, yah wajah kamu, tetap tersimpan rapi sebagai bukti bahwa kita pernah kembali. Tapi bukan di lemari lagi, tapi disini, di dalam hati yang pernah kamu isi. Sampai akhirnya aku kembali melukiskannya untuk orang lain dan kamu menerimanya dari orang lain, karena rasa bisa saja hidup kembali.