Keadaan sakit kemaren nyadarin gue bahwa ngga semua keinginan harus dipenuhi dengan segera, kita harus tahu kapasitas diri kita hanya sanggup memenuhi sampai mana atau cukup di bagian mana. Ingat, kita sedang bekerjasama dengan badan bukan mesin.
Kalau badan sudah meminta untuk istirahat, jangan ngikutin otak yang kadang masih egois meminta untuk terus bergerak.
Ternyata selama ini apa yang gue lakuin ngga sepenuhnya apa yang mau gue lakuin, gue terlalu maksain sama kemampuan gue sendiri. Jangan-jangan selama ini gue ngga sepenuhnya menikmati hidup, tapi hidup untuk bisa dipandang menikmati hidup.
Apakah ini yang disebut dengan nilai esensi kehidupan?
Jauh.
Gue masih belum punya kesadaran membagi waktu antara bekerja dan berisitirahat.
Gue berharap, setelah ini gue bisa bekerja dan berisitirahat dengan penuh kesadaran. Minimal jujur sama diri sendiri, kapan harus segera dan kapan boleh nanti saja, jangan dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar